Cari Di Blog ini

Minggu, 31 Mei 2015

Hal yang Dilakukan Jika Terkena Sifilis

Sifilis merupakan salah satu penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Penyebab penyakit Sifilis adalah bakteri Treponema pallidum. Infeksi ini dapat menyebabkan berbagai keluhan pada tubuh manusia. Dari sekedar muncul bercak kemerahan di kelamin, kemudian munculnya luka-luka kecil, demam, sakit kepala dan diikuti gejala infeksi umum lainnya.
Lalu apa yang harus dilakukan jika sudah terkena sifilis? Bagaimana pengobatannya? Adakah penanganan yang dapat dilakukan dengan sendiri tanpa ke dokter?
Sebelum kita mendiskusikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada baiknya mengenal terlebih dahulu bagaimana profil sifilis dan apa yang bisa diakibatkan ke tubuh Anda jika dibiarkan menahun.
Mari kita pelajari lebih dalam mengenai penyakit yang satu ini.

Bagaimana Penularan Sifilis?
Sifilis dapat ditularkan melalui berbagai cara, diantaranya adalah kontak seksual dengan lesi terinfeksi, dari ibu ke anak dalam rahim, melalui transfusi darah, dan sangat jarang sekali melalui luka di kulit yang terkena dengan luka sifilis.
Apa gejala dari penyakit sifilis?
  • Gejala yang muncul adalah luka pada kelamin disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening. Luka yang muncul biasanya satu luka dapat besar atau kecil. Sifilis sekunder terjadi 2 - 10 minggu setelah luka pada kelamin dan dapat melebar 3 - 4 bulan setelah infeksi.
  • Luka terlihat seperti lubang pada kulit dengan tepi yang lebih tinggi. Pada umumnya tidak terasa sakit.
  • Dalam beberapa minggu luka akan hilang, namun justru bakteri akan menetap pada tubuh. Gejala yang muncul dapat berupa lecet-lecet pada seluruh tubuh. Hal ini menyebabkan gejala sifilis tidak khas, dan sering di salah artikan sebagai penyakit lain.
  • Muncul bercak kemerahan pada tubuh sekitar 6-12 minggu setelah hubungan intim
Apa yang harus dilakukan untuk mendiagnosis sifilis?
Pada umumnya di laboratorium terdapat 2 macam pemeriksaan untuk sifilis (pemeriksaan antibodi):
  1. Untuk skrining: VDRL (Venereal Disease Research Laboratories) dan RPR (Rapid Plasma Reagin)
  2. Untuk diagnosis: FTA-ABS (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption test)  dan TP-PA (Treponema pallidum Particle agglutination assay)

Pengobatan sifilis adalah dengan pemberian antibotik. Namun diagnosis suatu penyakit dan pemberian terapi harus berdasarkan hasil wawancara medis, pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan pemeriksaan penunjang (bila diperlukan), yang dilakukan oleh dokter secara langsung. 
Dengan kata lain, yang dapat dilakukan ketika tepapar sifilis adalah segera lakukan pemeriksaan ke dokter tanpa menunda waktu lagi. Hindari segala aktivitas seksual lainnya dahulu dalam waktu dekat. Hal ini untuk mencegah penularan lebih meluas ke orang lain.

Tidak ada komentar: